Kehidupan sebuah perjalanan. Perjalanan tanpa henti sampai berlabuh kembali ke tanah......Mari berkarya demi kehidupan yang lebih bermakna
Kamis, November 13, 2008
Islamic Studies di UIN Yogyakarta
Selasa, November 11, 2008
Tak Perlu Keliling Dunia
pelajaran berharga bahwa negeri ini merupakan surga bagi dunia. kita sangat dianjurkan tuk tetap di didni menikmati keindahan alam Indonesia. negeri permai dengan bnyat sekali keindahan dan kekayaan, kenapa kita terbuai dengan keindahat negeri lain yang belum tentu seindah Indonesia!!!!
bravo Indonesia!
Jumat, November 07, 2008
SEjarah Islam
SEJARAH ISLAM DI INDONESIA
Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).
(Bersambung)
dari www.ummah.net/islam/nusantara/sejarah.html
Kamis, Oktober 30, 2008
Kecewa Hukuman habib Rizieq
harusnya kejadian ini adalah bukan kasus pertama kali yang menyeret Ketua FPI itu ke pengadilan. kejadian seperti ini selalu berulang. hukuman berat harus dialamatkan kepada para preman berjubah. ini dilakuakn suapay awarna kebangsaan Indonesia tidak selalu dirongrong oleh mereka. waspadalah hal seperti ini akan merusak tatanan bangsa yang plural!!!
bedah buku pendidikan
Selasa, Oktober 28, 2008
Mengikuti kegiatan
hari Senin mengikuti Seminar nasional dengan Tema Hukum Islam dalam kerangka Pluralisme bangsa yang diselenggarakan menyambut Dies natalis UIN Yogyakarta yang ke-57. acara bagus menambah pengetahuan.
Jumat, Oktober 24, 2008
Yogya jadi Pusat Wisata Kuliner
Menyadari potensi ini Pemerintah Kota Yogyakarta akan membangun pusat wisata kuliner di kota itu. "Kami sedang mengkaji beberapa tempat yang dapat dijadikan pusat kuliner, diantaranya Beteng Vredeburg atau Alun-Alun Selatan," kata Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Yogyakarta, Hadi Muchtar, di Yogyakarta, awal pekan ini.
Menurut Hadi, konsep wisata kuliner tersebut tidak hanya mengandalkan makanan khas Yogyakarta tetapi juga makanan lain yang ada di Yogyakarta. "Makanan khas Yogyakarta itu banyak, seperti gudeg yang sudah terkenal, ada juga tiwul atau gatot. Namun makanan lain yang ada di Yogyakarta juga tidak bisa diabaikan," katanya.
Pluralisme yang ada di Yogyakarta, kata Hadi, menjadi alasan bahwa nantinya pusat wisata kuliner yang ada tidak hanya mengkhususkan diri pada makanan khas Yogyakarta, tetapi juga makanan-makanan lain yang sudah ada di Yogyakarta.
"Tidak mungkin wisatawan ke Yogyakarta hanya akan makan gudeg saja, mereka kadang-kadang juga ingin menikmati makanan lain," katanya.
Lokasi seperti Alun-Alun Selatan, menurut Hadi, cukup representatif untuk dijadikan pusat wisata kuliner karena sudah banyak pedagang makanan di tempat tersebut seperti penjual jagung bakar dan ronde, namun dari sisi sarana masih kurang.
"Misalnya akan ditambah tempat parkir khusus, karena jika hanya parkir di pinggir-pinggir jalan tentu membuat macet," kata dia. Ia memperkirakan pusat wisata kuliner di Yogyakarta baru dapat diwujudkan pada 2009.
Sumber Kompas Cyber Media, Jum'at 24 Oktober 2008