Rabu, November 26, 2008

DAFTAR NILAI MATA KULIAH

DANIEL ARIEF BUDIMAN

SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM UIN YOGYAKARTA

SMT

NO

MATA KULIAH

SKS

NILAI

K

N X K

KET


1

Pancasila

2

A

4.00

8.00



2

Bahasa Inggris

4

B

3.00

12.00



3

Bahasa Arab

4

A/B

3.50

14.00


I

4

Sejarah Kebudayaan Islam

2

A-

3.75

7.50



5

Pengantar Studi Islam

4

A/B

3.50

14.00



6

Bahasa Indonesia

2

A

4.00

8.00



7

Filsafat Umum

2

A-

3.75

7.50


SMT

NO

MATA KULIAH

SKS

NILAI

K

N X K

KET


1

Ilmu Alamiah Dasar

2

A/B

3.50

14.00



2

Bahasa Inggris

4

B+

3.25

13.00



3

Bahasa Arab

4

A/B

3.50

14.00



4

Pengantar Fikih/Ushul Fiqh

2

A/B

3.50

7.00


II

5

Ulumul Qur’an

2

B-

2.75

5.50



6

Ulumul Hadis

2

A/B

3.50

7.00



7

Sejarah Islam Asia Barat

2

A-

3.75

7.50



8

Sejarah Indonesia Pra-Islam

2

A/B

3.50

7.00



9

Ilmu Kalam

2

B+

3.25

6.50


SMT

NO

MATA KULIAH

SKS

NILAI

K

N X K

KET


1

Ilmu Sosial Budaya Dasar/ISBD

2

B

3.00

6.00



2

Sej. Islam Indonesia Pra-Kolonial

2

A

4.00

8.00



3

Sejarah Pemikiran Islam I

2

A/B

3.50

7.00



4

Sejarah Dunia I

2

B-

2.75

5.50



5

Sejarah Islam Turki

2

B+

3.25

6.50


III

6

Akhlak/Tasawuf

2

A-

3.75

7.50



7

Pengantar Ilmu Budaya

2

A/B

3.50

7.00



8

Filsafat Ilmu

2

B-

2.75

5.50



9

Sosiologi Agama

2

A/B

3.50

7.00



10

Pengantar Ilmu Sejarah

2

B+

3.25

6.50


SMT

NO

MATA KULIAH

SKS

NILAI

K

N X K

KET


1

Kewarganegaraan

2

A

4.00

8.00



2

Sejarah Dunia II

2

A/B

3.50

7.00



3

Sejarah Pemikiran Islam II

2

B+

3.25

6.50



4

Metodologi Penelitian

2

C+

2.50

5.00



5

Sejarah Islam Indonesia Kolonial

2

A-

3.75

7.50


IV

6

Filsafat Islam

2

B-

2.75

5.50



7

Filologi

2

B+

3.25

6.50



8

Ilmu Politik

2

B-

2.75

5.50



9

Teori Ilmu Sosial

2

B

3.00

6.00



10

Sej. Pemikiran Islam Indonesia

2

B+

3.25

6.50



11

Sejarah Agama-agama

2

B-

2.75

5.50


SMT

NO

MATA KULIAH

SKS

NILAI

K

N X K

KET


1

Sej. Islam Indonesia Kontemporer

2

A-

3.75

7.50



2

Sej. Kesenian Islam Indonesia

2

A-

3.75

7.50



3

Sejarah Islam Persia

2

A/B

3.50

7.00



4

Sejarah Islam Afrika Hitam

2

B+

3.25

6.50



5

Sejarah Islam Minoritas

2

A-

3.75

7.50


V

6

Antropologi

2

A/B

3.50

7.00



7

Historiografi Indonesia

2

A-

3.75

7.50



8

Kearsipan

2

A

4.00

8.00



9

Metodologi Sejarah

2

A/B

3.50

7.00



10

Sej. Islam Afrika U & Andalusia

2

A/B

3.50

7.00


SMT

NO

MATA KULIAH

SKS

NILAI

K

N X K

KET


1

Sejarah Islam Asia Tengah

2






2

Sejarah Islam Asia Selatan

2






3

Sejarah Islam Asia Tenggara

2






4

Arkeologi

2

B-

2.75

5.50



5

Kajian Naskah Nusantara

2

C

2.25

4.50


VI

6

Kajian Naskah Arab

2






7

Historiografi Islam

2






8

Filsafat Sejarah

2






9

Metodologi Penelitian Sejarah

2






10

Bahasa Belanda

4





SMT

NO

MATA KULIAH

SKS

NILAI

K

N X K

KET


1

Bibliografi Islam

2

A





2

Seminar Sejarah

4

A





3

Islam dan Budaya Lokal

2

A




VII

4

KKN

4

A-

3.75

15.00



5

Skripsi

6






6








7







Historiografi Islam

AL-MAS'UDI

A. Pendahuluan

Sejarah merupakan didiplin ilmu yang memiliki metode (mazhab) mantap, aspek penggunaan yang sangat banyak, dan memiliki sasaran yang mulia. Sejarah membuat kita faham akan hal ihwal bangsa-bangsa terdahulu, yang terefleksi diri dalam perilaku kebangsaan mereka. Sejarah membuat kita mengetahui biografi para nabi, serta negara dan kebijaksanaan para raja. [1]

Penulisan sejarah (historigrafi) membutuhkan sumber yang bergama, dan pengetahuan yang bermacam-macam. ia juga dibuthkan perhitungan yang tepat, dan ketekunan. Kedua sifat ini membawa sejarawan pada kebenaran, dan menyelamatkan mereka dari ketergelinciran dan kesalahan. Dalam sejarah Islam terdapat kisah israiliyyat dan merupakan suatu bahaya bagi kemurnian agama Islam. Berdasarkan hal itu maka kritik yang sering digunakan pada buku sejarah dan para sejarawan adalah banyaknya kisah tersebut dalam karya mereka.namun terlepas dari semuanya itu sejarah sesungguhnya tetap mendapat tempat yang amat penting dalam keilmuan Islam.

Dalam bidang sejarah, telah muncul tokoh-tokoh sejarawan yang sangat menonjol dan penting bukan saja untuk masa lalu dan masa sekarang, namun mungkin akan menjadi penting kembali di masa datang. Diantara tokoh tersebut adalah al-Mas'udi.

Al- Mas'udi adalah seorang ahli sejarah, geografi, geologi, zoologi, ensiklopedi dalam bidang sains Islam, sekaligus pengembara. Banyak negari yang telah dia kunjungi dan puluhan karya yang telah dihasilkan. Dalam makalah ini akan diuraikan perjalanan al-Mas'udi sejak kehidupannya, pemikiran, karya dan akhir hidupnya.

B. Pembahasan

  1. Sketsa Biografi

Masa kecil al-Mas'udi tidak diketahui secara pasti. Sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa ia lahir di Baghdad pada akhir abad IX dan meninggal dunia di Fustat, Mesir pada tahun 956 M. Nama lengkapnya adalah Abu Hasan Ali bin Husein bin Ali al-Mas'udi. Ia mendapat gelar imam al-Mu'arrikhin (pemimpin para sejarawan) oleh Ibn al-Khallikan (608 H/1211 M-681 H/1282 M), sejarawan muslim . selain itu ia juga dijuluki "Herodotus" (ahli sejarah Yunani).[2]

Ibnu Nadim dalam kitabnya al-Fihrist (Indeks) menyebutnya berasal dari magribi, Afrika Utara. Oleh karena itu, Ahmad Ramadhan Ahmad (sejarawan), dalam karyanya ar-Rihlah wa ar-rahalah al-Muslimun (Wisata dan para Penjelajah Muslim) menyimpulkan bahwa keluarganya datang dari Magribi ketika ia masih anak-anak dan kemudian menetap di Baghdad atau keluarganya datang dari Maghrib dan ia lahir di Baghdad.

Setelah menyelesaikan pendidikan pertama yang diterima dari ayahnya, al-Mas'udi segera merencanakan untuk mendalami sejarah, adat istiadat, kebiasaan, dan cara hidup setiap negeri. Ia juga banyak mempelajari ajaran kristen dan yahudi, serta sejarah barat dan Timur yang berlatar belakang Kristen dan yahudi.

Pengembaraan Intelektualnya dimulai dengan mengunjungi negeri Iran dan Kirman (915). Ia juga bermukim di Ushtukhar, Persia dan dari sana pergi ke India, mengunjungi Multan dan al-Manshura. Bersama para pedagang, ia melanjutkan pengembaraannya ke Ceylon (Srilanka) dan ia ikut mengarungi laut Cina. Dalam perjalanan pulang ia mengelilingi Samudera Hindia dan kemudian mengunjungi Oman, zanzibar, Pesisir afrika Timur, Sudan, dan Madagaskar.

Pada tahun 926 M ia kembali mengadakan perjalanan ke beberapa negeri seperti Tiberias, (Suriah) dan Palestina, serta tahun 943 M ke antioch (Suriah). Ia juga mengelilingi neger-negeri Irak dan Arab Selatan. Sepuluh tahun terakhir hidupnya dilalui di Suriah dan dan kemudian di Mesir, tempat ia meninggal dunia.[3]

2. Pemikiran Keilmuan

Dalam penulisan sejarah ia menggunakan pendekatan at-tasnif al-maudu'i (tematik) hal ini berbeda dengan kebanyakan sejarah yang ditulis pada zaman itu yang menggunakan metode al-hauliyyat (at-tarikh 'ala as-sininn, penulisan berdasar kepada tahun).

Tema-tema yang ditulis meliputi bangsa, raja, dan dinasti. Dalam pemaparan sejarah, ia menyajikan materi dengan menarik, diramu bersama peristiwa politik, peperangan, dan informasi tentang masyarakat dan adat istiadatnya, di samping pembahasan tentang geografis. Dalam hal ini ia banyak diikuti oleh sejarawan selanjutnya, termasuk Ibnu Khaldun.[4]

Al mas'Udi disebut sebagai Pilinius dari sastra Arab, karena pengetahuan geografinya. Dalam bukunya Muruj az-Zahab wa Ma'adin al-jawahir, ia menjelaskan bagaimana terjadinya gempa bumi. Ia juga berkisah tentang laut mati; dan tentang kincir angin pertama, yang menurutnya mungkin sekali merupakan penemuan orang Islam. Ia juga merumuskan teori yang dapat dikatakan sebagai dasar awal dari teori evolusi.[5]

Al- Mas'udi bersama-sama dengan al-Isfahani (meninggal tahun 356 H/967 M), dapat digolongkan dalam kelompok penulis besar yang telah menulis tentang musik, yang membicarakan sejarah musik, kumpulan musik, buku tentang alat musik, aspek hukum dalam musik, keindahan musik, serta riwayat hidup para pemusik yang terkenal. Dalam kitab Muruj az-Zahab wa Ma'adin al-Jawahir, ditenui juga data yang menarik tentang praktek musik Arab pada masa lampau. Ia juga mengemukakan perkembangan musik yang terdapat di daerah lain.

Al-Mas'udi dikenal sebagai pengikut aliran Muktazilah, seperti disebut dalam karyanya Muruj az-Zahab wa Ma'adin al-Jawahir, namun ada juga yang mengatakannya sebagai pengikut Syi'ah karena ia banyak mengungkapkan kebesaran Syi'ah dalam tulisan-tulisannya.[6]

  1. Karya-Karya

Al-Mas'udi banyak menghasilkan karya diantaranya:

a. Zakha'ir al-Ulum wa Ma Kana fi Sa'ir ad Duhur (Khazanah Ilmu pada Setiap Kurun)

b. Al-Istizhar Lima Marra fi Salif al-A'mar tentang peristiwa-peristiwa masa lalu. Buku ini dan buku di atas telah diterbitkan kembali di Najaf pada tahun 1955.

c. Tarikh al-Akhbar al-Umam min al-Arab wa al'Ajam (sejarah Bangsa Arab dan Persia)

d. Akhbar az-Zaman wa Man Abadahu al-Hidsan min al-Umam al-Madiyan wa al-Ajyal al-Haliyah wa al-Mamalik al-Dasirah, berisi tentang sejarah umat manusia masa lampau dan bangsa-bangsa sekarang serta kerajaa-kerajaan mereka. Buku yang terdiri dari 30 jilid ini tidak sampai ke tangan generasi sekarang. Yang ada sekarang adalah ringkasannya, namun tidak diketahui pengarangnya. Beberapa manuskrip menyebutkan bahawa ringkasan itu justru merupakan jilid pertama dari kitab itu. Meskipun demikian, materinya termuat di dalam dua karya berikutnya.

e. Al-Ausat, berisi kronologi sejarah Umum.

f. Muruj az-Zahab wa Ma'adin al-Jawahir (Padang Rumput Emas dan Tambang Batu Permata) disusun tahun 947 M. kitab ini terdiri atas dua bagian besar. Pertama, berisi sejarah penciptaan alam dan manusia, sifat-sifat bumi, laut peristiwa-peristiwa luar biasa, riwayat nabi-nabi, sejarah bangsa-bangsa kuno dengan agama dan alirannya, serta adat istiadat dan tradisi. Al-Mas'udi banyak mengutif karya para sejarawan sebelumnya. Kedua, berisi sejarah Islam mulai akhir masa al-Khulafa ur-Rasyidun (empat khalifah besar) sampai masa awal masa pemerintahan Khalifah al-Mu'ti dari bani Abbasiyah, kehidupan para budak leleaki dan wanita, mawali (orang asing, terutama Persia), kehidupan masyarakat umum, pembangunan (seperti istana) beserta segala perlengkapannya, kebiasaan para pembesar, dan adat istiadat serta tradisi negeri-negeri yang dikunjunginya. Al-Mas'udi banyak memaparkan pembagian bumi ke dalam beberapa wilayah. Menurutnya bentuk daratan dan lautan merupakan segmen sebuah bola. Kitab yang sekarang disebut kutab turas (Khazanah Islam Klasik) ini diterbitkan kembali tahun 1895 di Kairo. Kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh A. Sprenger (London, 1841). Pada tahun 956 al-mas'udi sebenarnya telah menyelesaikan penulisan sebuah kitab yang konon cakupannya lebih luas dari kitab di atas, tetapi kitab tersebut belum ditemukan.

g. At-Tanbih wa al-Israf (Indikasi dan Revisi) ditulis tahun 956. kitab yang merupakan ringkasan dan memuat beberapa revisi dari tulisannya yang lain, juga memuat pandangan filsafat-filsafatnya tentang alam dan sejarah. Ia memaparkan pemikirannya tentang evolusi alam, yaitu dari mineral, tanama, hewan, sampai manusia. Sebagai contoh terjadinya evolusi itu, ia berpendapat bahwa jerafah adalah hibrida dari unta dan macan tutul (phanter). Pendapat ini berbeda dengan pendapat ilmuwan muslim lainnya, yaitu al-jahiz dan Abu Yahya al-Qazwini, yang menyatakan bahwa jerafah adalah hibrida dari unta betina liar dan hiena jantan. Kitab ini diedit oleh M.J de Goeje (Leiden, 1894) dan telah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh Carra de Vaux (Paris, 1897).

Selain kitab di atas, terdapat kitab yang tidak sampai pada generasi sekarang yakni:

h. Al-Istinsar (Kebangkitan)

i. Az-Zahi (Masa Kecemerlangan)

j. Al-Istinsar al-Mufrad li Firaq al-Khawarij (Kemenangan Tunggal Melawan Kelompok-kelompok Khawarij)

k. Al-Qadaya wa at-Tajarib (Peristiwa dan Pengalaman)

l. Mazahir al-Akhbar wa Tara'if al-asar (Fenomena dan Peninggalan Sejarah)

m. As-Safwah fi al-Imamah (tentang Kepemimpinan).

Secara keseluruhan karya-karya al-Mas'udi dapat dipakai sebagai sumber untuk memahami pandangan umum muslim mengenai dunia dan juga sebagai bahan penyelidikan pengetahuan tentang geografi dan sejarah alam. Informasi dalam karyanya tentang negeri yang dikunjunginya dapat didapatnya dari sumber primer, terutama negeri-negeri Islam.

Dari semua karyanya, yang paling terkenal adalah Muruj az-Zahab wa Ma'adin al-Jawahir. Akan tetapi, mekipun al-Mas'udi dianggap sebagai sejarawan yang besar, dan penulis kisah perjalanan yang terkemuka, para ahli mengajukan kritik bahwa dalam bukunya itu dimasukkan juga kisah dan ceritayang tidak dapat dipastikan kebenarannya. Sehingga tidak semuanya dapat dipercaya.[7]

Karya al-Mas'udi menduduki tempat tersendiri. Namun ada yang berpendapat bahwa bukunya itu tampaknya tidak memiliki sistem sama sekali. Salah satu aspek yang penting dari keberadaan bukunya itu adalah bahwa karyanya memperlihatkan perbedaan yang sangat besar antara ilmu bumi Islam yang ditulis oleh pihak kerajaan di satu pihak, dan gagasan bebasnya tentang geografi yang dibuat oleh para pelaut dan pengembara.

Salah satu contoh mengenai masalah ini adalah mengenai pendapat yang terdapat di kalangan para pakar Islam, tentang luasnya Lautan Hindia. Disamping mengemukakan pendapat para pakar, ia juga mengemukakan pendapat orang yang pernah mengarungi lautan itu dari pelabuhan yang terdapat di teluk Persia. Sudah dapat dipastikan bahwa mereka ini sangat kenal dengan seluk beluk laut itu. Namun mereka ini sama sekali tidak sependapat dengan ukuran yang telah diberikan para pakar itu. Mereka juga berpendapat bahwa laut itu pada beberapa arah tertentu bahkan tidak memiliki ukuran sama sekali.[8]

C. Penutup

Al-Mas'udi merupakan sejarawan yang sangat berjasa dalam mengembangkan penulisan sejarah (historigrafi). Historiografi yang ditulisna menjadi rujukan bagi sejarawan-sejarawan selanjutnya termasuk Ibnu Khaldun. Terlepas dari kitik terhadapnya tapi karyanya Muruj az-Zahab wa Ma'adin al-Jawahir memberikan kontribusi yang besar dalam pengembangan keilmuan Islam khususnya historiografi Islam.

Cakupan pengetahuannya tidak hanya meliputi sejarah tapi juga geografi, geologi, zoologi, sains, kalam, akhlak dan politik. Ini menjadikan dasar bahwa seorang sejarawan harus mumpuni di segala bidang ilmu pengetahuan. Seorang sejarawan harus bisa menjadikan ilmu sejarah ter-integrasi dan ter-interkoneksi-kan dengan ilmu keislaman dan umum lainnya khususnya dalam menghasilkan historiografi.



[1] Ibnu Khaldun, Muqaddimah, Terj. Ahmadie Thoha, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), hlm. 12.

[2] Hasan Mu'arif Ambari, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), hlm. 47.

[3] Ibid.

[4] Akbar S. Ahmed, Citra Muslim Tinjauan Sejarah dan Sosiologi, (Jakarta: Erlangga, 1990), hlm. 113.

[5] Taufik Abdullah (edt), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid II (Jakarta: Iktiar Baru Van Hoeve, 2002), hlm. 273.

[6] Hasan Mu'arif Ambari, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), hlm. 48.

[7] Taufik Abdullah, Ensiklopedia…hlm. 273.

[8] Ibid.

makalah Islam minoritas

Islam Minoritas di Asia Tenggara

A. PENDAHULUAN

Islam di Asia Tenggara memiliki sejarah panjang dan tersendiri. Beberapa negara utama di kawasan ini, seperti Malaysia, Indonesia, dan Brunai Darussalam adalah negara-negara dengan mayoritas muslim. Bahakan jumlah penduduk muslim yang ada di Asia Tenggara melebihi jumlah penduduk yang ada di kawasan Timur Tengah. Namun demikian Asia Tenggara masih menyisakan beberapa kelompok Islam sebagai minoritas.

Minoritas muslim di Asia Tenggara juga tampak beragam meskipun terdapat setidaknya dua hal yang bisa membantu menjelaskan masyarakat Islam Minoritas itu. Pertama, mereka yang terbentuk akibat migrasi ke negeri dan kawasan yang telah memiliki pemerintahan dan sistem nasional yan kokoh. Termasuk dalam kelompok minoritas ini adalah para pedagang muslim, yang kebanyakan berasal dari anak benua India, Myanmar, Arab, Yunnan, Vietnam, Kampuchea, laos, dan Thailand utara. Kedua, masyarakat muslim penghuni asal yang mendapati diri mereka menjadi minoritas karena perubahan dan perkembanagn geografis dan politik. Kasus paling nyata dalam hal ini terjadi pada masyarakat Singapura pada abad ke-19 dan kaum muslim Pattani di Thailand pada perempat terakhir abad ke-18[1]

Sering terjadi perbenturan antar Islam dan kelompok lain di daerah non-Islam. Konflik seperti inilah yang mengindikan banyaknya permaslahan yang komplek yang dihadapi minoritas Islam di Asia Tenggara. Ditambah lagi dengan kesenjangan di berbagai bidang seperti pendidikan dan ekonomi membuat semangat kemerdekaan diri tidak mudah hilang.

Namun, dari semuanya itu perkembangan minoritas Islam di kawasan Asia Tenggara memberikan harapan dan tantangan baru bagi munculnya corak dan ragam Islam yang lebih mudah menerima konsekuensi pluralisme agama dan budaya, serta mampu menunjukkan daya saingnya di tengah-tengah kecenderungan kompetisi global di hampir segala bidang.

B. PEMBAHASAN

Beberapa permasalahan Islam minoritas diantaranya dapat ditemui di daerah Pattani (Thailand), Moro (Philipina) dan Cham (Vietnam, Kamboja dan Thailand).

1. Muslim Pattani

a. Sejarah Awal Islam di Pattani

Islam diperkirakan masuk ke kawasan Pattani, Thailand selatan pada abad X atau XI lewat jalur perdagangan. Penyebaran Islam dilakukan para guru sufi pengembara dan pedagang yang berasal dari wilayah Arab dan pesisir India. Bukti yang menguatkan pendapat ini adalah ditemukannya sebuah batu nisan yang bertuliskan arab di dekat kampung Kampung Teluk Cik Munah, Pekan pahang yang bertarikh 1028 M. orang-orang Siam (Thai) mengenal orang-orang ini dengan sebutan Khei atau Khaek yang secara bahasa berarti pendatang atau orang yang datang menumpang.[2]

Pada masa jayanya di daerah ini terdapat kerajaan Islam Melayu yang yang maju dan menjadi salah satu pusat perdagangan Asia Tenggara. Kerajaan ini dikenal dengan Negeri Pattani besar mencakup berbagai wilayah seperti kawasan pesisir timur Semenanjung Malaka, Teluk Siam, dan kawasan laut China Selatan seperti narathiwat (Teluban), Yala (Jalor) dan sebagian Senggora (Songkla, sebayor dan Tibor).

b. Pergulatan Politik Minoritas Muslim Pattani

Penguasaan Pattani oleh Thailand terjadi pada tahun 1785, secara berturut-turut pemerintah Thai memberlakukan beberapa kebijakan politik. Diantaranya adalah kebijakan politik devide et impera (1816-1902), kebijakan integrasi dan pembangunan nasional (1902-1940), kebijakan asimilasi kebudayaan dan transmigrasi (1940-1980), dan kebijakan Tai Rum Jen serta Kuam Wang Mai atau lebih dikenal dengan Aspirasi baru yang diberlakukan sejak tahun 1980 hingga sekarang.

Sedangkan proses lenyapnya kekuasaan kerajaan Pattani dan masuknya ke dalam kekuasaan Thailand (Siam) disebut dengan Thesaphiban. Proses ini terjadi pada tahun 1902 M dan diikuti dengan proses pembauran (Siamisasi). Raja kehilangan kewibawaan dalam bidang politik dan ekonomi. Sementara itu, peranan ulama, semakin kecil karena adanya pembatasan pelaksanaan syariat. Peristiwa ini merugikan kaum muslim dan sebagai akibatnya terjadi pemberontakan lokal terhadap Bangkok yang dipimpin para ulama pada tahun 1910 dan 1911.

c. Kehidupan Masyarakat

Pemerintah Thailand seringkali menyebut orang Muslim pattani sebagai Islam Thai sebuah istilah yang sebenarnya kurang tepat karena mereka lebih dekat dengan etnis dan budaya melayu daripada Thailand. Mereka adalah kelompok etnik yang terpisah dari induknya dunia melayu muslim Asia Tenggara.[3] Sampai akhir abad XIX, kehidupan ekonomi Pattani bergantung kegiatan ekonomi subsisten, seperti pertanian padi, penagkapan ikan, pertambangan, dan perdagangan eceran.

Struktur sosial di Pattani menunjukkan kedudukan sosial, ekonomi, dan politik muslim Pattani berada pada tingkat bawah. Sejak perang Pasifik, bidang politik hampir seluruhnya berada dalam dominasi kelompok etnis Thai. Sementara dalam bidang ekonomi dalam skala besar merupakan lahan bagi etnis Cina. Jenis pekerjaan yang masih mungkin adalah ekonomi tradisional yang bersifat subsisten. Tidaklah mengherankan apabila sebgian masyarakat terutama generasi muda yang lebi tertari untuk migrasi ke kota-kota besar seperti Bangkok bahkan sampai Malaysia dan Singapura.

d. Perkembangan Keagamaan

Perkembangan Islam di pattani dapat dikatakan sebanding dengan perkembangan Islam di Nusantara. Pada zaman kerajaan dan kesultanan di Pattani, Islam menjadi simbol dan paradigma dalam sistem pemerinahannya. Adapun di daerah lain seperti bangkok dan daerah utara pengaruh Islam lebih terbatas pada pribadi.

Sekarang ini, kebebasan memeluk agama dan mengamalkannya dijamin pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan terbitnya Undang-undang Kelembagaan Negara Thailand tahun 1997 akta nomor 38. hal ini tentu saja memberikan kesempatan bagi muslim untuk menjalankan syariatnya. Mereka bisa melakukan pernikahan dan melaksanakan hukum waris sesuai kaidah hukum Islam yang berlaku.

2. Muslim Moro

a. Sejarah Awal Islam Moro

Muslim Moro berada di negara Filipina. Negara Filipina adalah negera kepulauan yang terdiri dari 7.109 pulau tropis dengan luas total wilayah 29.629.000 hektare dan terdiri atas beragam etnis, bahasa dan agama. Meskipun demikian negara ini mayoritas penduduknya beragama katolik. Menurut sensusu tahun 1990 junlah kelompok muslim adalah 5 % dari keseluruhan penduduk Filipina yakni sekitar 2,8 juta jiwa dari populasi 65 juta penduduk. Sementara sumber lain menyebutkan jumlahnya 7 juta orang atau 10 % penduduk. Mereka Merupakan komunitas agama kedua terbesar di Filipina.[4]

Jumlah ini cukup menjadikan mereka minoritas baik dari segi budaya maupun politik. Mereka bertempat tinggal di kawasan Filipina Selatan, khususnya di Pulau Mindanao dan Kepulauan Sulu. Umat Islam di sana sering disebut sebagai bangsa Moro. Menurut catatan sejarahnya, istilah Moro merujuk kepada Moor, Moriscor atau Muslim. Kata Moor berasal dari kata latin Mauri sebuah istilah yang sering kali digunakan orang-orang Romawi Kuno untuk menyebutkan penduduk wilayah Aljazair barat dan maroko. Ketika bangasa Spanyol tiba di wilayah di wilayah Filipina dan menemukan sebuah bangsa yang memiliki agama dan adat istiadat seperti orang-orang Moor di Spanyol, maka mereka mulai menyebut orang-orang tersebut dengan istilah Moro.

Islam masuk ke Filipina selatan tidak lama setelah Islam berkembang di dunia Melayu. Islam sudah berkembang di beberapa kepulauan, khususnya Sulu di perempat terakhir bad ke-13. ini beratri kedatangan Islam ke sana jauh lebih awal dibandingkan kedatangan bangsa kolonial, khususnya Spanyol.

Sumber dari kedatangan Islam bisa ditelusuri lewat Tarsila. Walaupun banyak mengandung mitos tapi tarsila cukup kronologis untuk menjelaskan asal mula dan perkembanagn awal Islam Moro.islam berkembang melalui jalan perdagangan dan disebarkan melalui para dai yang di kawasan Filipina Selatan dikenal dengan sebutan Masya'lik, Makdumin dan Auliya. Pada abad ke-14 terjadi proses Islamisasi dalam bidang pendidikan dan abad ke-15 terjadi pengaruh politik dari para pedagang Melayu.

Kedatangan bangsa Spanyol pada tahun 1565 ke Filipina untuk mendirikan koloni dengan segala nuansa kristennya sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial dan budaya Filipina secara langsung maupun tidak langsung. Proses islamisasi terhambat penyebaran Islam hanya sampai di Sulu dan Mindanao.

b.Politik dan kebangkitan Islam Philipina

Wilayah Mindanao dan Sulu di Selatan Filipina tidak pernah bisa ditundukkan oleh pasukan Spanyol. Namun demikian, Spanyol tetap menganggapnya sebagai bagian dari koloninya. Hal ini terbukti dengan ditanda tanganinya Traktat Paris pada tahun 1898 yang mengalihkan hak penguasaan wilayah Filipina termasuk daerah Selatan kepada Amerika Serikat dengan harga 20 juta dolar AS. Sejak itu Amerika mengambil alih kekuasaan di Filipina. Kemerdekaan Filipina baru terjadi tahun 1946. namun kemerdekaaan itu tidak berpengaruh banyak bagi status politik dan kesejahteraan bangsa Moro.setelah merdeka otomatis pemerintahan dikendalikan oleh orang-orang katolik di Filipina Utara.

Perbenturan yang terjadi antara kelompok Islam dan kekuatan Barat dan juga pemerintahan Filipina seringkali menumbuhkan kesadaran di kalangan muslim Filipina akan pentingnya merepresentasikan nilai-nilai dan simbol umat Islam, seperti yang pernah mereka miliki lewat kesultanan Islam di Filipina Selatan.

Penindasan terhadap kaum muslim Moro terjadi pada amasa kekuasaan Ferdinand Marcos di tahun 1965. hal ini menyebabkan munculnya gerakan perjuangan bangsa Moro seperi Muslim Independen Movement (MIM) yang didirikan oleh Udtog Matalam, pada tahun 1968 dan Moro Liberation Front (MLF) pada tahun 1971. karena perbedaan vsi maka MLF pecah menjadi dua, yakni kelompok nasionali sekuler pimpinan Nur Misuari yang mendirikan Moro National Liberation Front (MILF) dan kelompok Moro Islamic Liberation front (MILF) yang dipimpin oleh Hashim Salamat. Dalam perjalanannya MNLF pun pecah lagi menjadi kelompok MNLF Reformasi di bawah pimpinan Dimas Pundato (1981) dan kelompok Abu Sayyaf di bawah pimpinan Abdurrahman Janjalani (1993).secara umum kebangkitan Islam di Filipina berkembang dalam dua paradigma: pertama, pradigma radikal yang dikembangkan oleh para aktivis MNLF, yang semula merupakan kelompok minoritas di kalangan umat Islam. MNLF pernah mengeluarkan manifesto yang menyerukan kemerdekaan bangsa Moro.

Kedua, pandangan moderat yang menginginkan adanya berbagai perubahan sosial dalam konteks lebih luas. Sikap politik bangsa Filipina dalam menghadapi tuntutan bangsa Moro sangat jelas. Mereka tidak mungkin akan membiarkan orang-orang Islam memisahkan dan memerdekakan diri. Meskipun akhirnya dalam perkembanagn terakhir politik nasional Filipina orang-orang Moro diberikan otonomi, hal ini tidak menghilangkan potensi konflik yang bisa muncul kembali.

Pada tanggal 16 Agustus 1996, wakil-wakil dari MNLF dan pemerintah Filipina sepakat bertemu dan merundingkan rencana perdamaian di Istana Merdeka, jakarta. Selanjutnya tanggal 2 September 1996, naskah perjanjian perdamaian ditandatangani oleh Nur misuari (Ketua MNLF) dan Fidel Ramos (Presiden Filipina) di Manila.

c. Perkembanagan ekonomi, sosial dan budaya

Masyarakat muslim terkonsentrasi di wilayah otonom Filipina Selatan. Mereka ada di kepulauan Mindanao, daerah ujung selatan Palawan, dan gugusan kepulauan Sulu. Secara etnis dan bahasa mereka setidaknya terdiri dari tiga belas kelompok bahasa. Mereka berkedudukan di 13 propinsi yang berada di empat wilayah perundang-undangan yang berbeda.

Dari segi etnis, tiga suku diantaranya yakni, suku maranao, tausug dan Manguindanao merupakan kelompok etnis muslim terbesar di kawasan ini memiliki penduduk muslim sekitar 75 % dari jumlah total penduduk muslim di Filipina.

Dilihat dari jenis, setidaknya sampai 1970-an, masyarakat muslim Filipina tidak banyak yang berbeda dari warga lainnya. Mayoritas dari mereka menekuni bidang pertanian, perikanan, dan ekonomi yang berbasis pada hutan. Kaum muslim Manguindanau banyak ayang bertani sawah, sedangkan masyarakat maranau dikenal sebagai pengrajin kuningan dan tenunan, selain bertanam padi dan jagung di pegunungan. Sebagian mereka juga dikenal sebagai pedagang yang terkenal sampai ke pelosok-pelosok Filipina.

Orang Tausug yang tinggal di pesisir umumnya bekerja sebagai nelayan, hampir sama dengan sebagian masyarakat Iranun, kalagan, dan Samal pesisir.fenomena yang agak berbeda terdapat pada orang-orang tagalog Islam yang karena mengalami proses urbanisasi besar-besaran, telah beralih menjadi pekerja profesional baik di kantor maupun pabrik di daerah perkotaan.

d.Perkembangan keagamaan

Ketika konflik ketegangan antara kelompok Islam di Filipina secara keseluruhan. Mereda, terjadi perkembanagan yang menarikdalam Islam di Filipina. Mislanya, kantor Urusan Agama Islam (OCIA) dianggap sebagai simbol perhatian pemerintah Filipina terhadap maslah umat Islam. Pada tahun 1973, pemerintah mendirikan Institute of Asian and Islamic Studies di Mindanao State University. Kemudian, nama lembaga kajian ini diubah menjadi King Faisal Center for Islamic and Arabic Studies.

Respons yang positif dari pemerintah Filipina juga diberikan pada bidang-bidang lainnya. Pada 1973, pemerintah mendirikan Philipine Amanah bank, sebuah bank komersial yang bermarkas di manila untuk mengembangkan berbagai aspek perekonomian masyarakat Islam seperti pertanian, pabrik, pertambangan, transfortasi dan industri.

3. Muslim Cham

a. Sejarah awal Islam di Cham

Bangsa Muslim Cham atau Champa merupakan masyarakat Asia Tenggara yang beragama Islam selain bangsa yang berlatar belakang etnis Melayu. Mereka tersebar di Vietnam, Kampuchea, dan Thailand. Masyarakat Cham merupakan keturunan dari bangsa Cham terdahulu, baik muslim, di zaman Kerajaan Champa (192-1471). Dalam sejarah Indonesia pengaruh dari hubungan Champa dengan kerajaan majapahit dikenal dengan baik. Kerajaan ini hamcur tahun 1471 oleh pasukan Vietnam yang mengkibatkan mereka tercerai berai. Mayoritas mereka hidup di desa-desa padat.[5]

Di Vietnam generasi awal paling awal mereka menempati kawasan pantai Phan Rang (Pandarunga)dan Nha Trang, wilayah Thun Hai. Dalam Sejarahnya masyarakat Cham yang ada di Kampuchea merupakan kelanjutan dari kelanjutan dari pelarian bangsa Champa pada tahun 1471. mereka mendirikan pemukiman seperti yang yterdapat di daerah Kampong Chnang dan Kampong Cham, kawasan yang dialiri sungai Mekong sebelah utara kota Phnom Penh.

Meskipun minoritas, masyarakat Islam Cham mengembangakn struktur kemasyarakatan berdasarkan tradisi Islam. Dalam hierarki dan organisasi keagamaan misalnya mufti menduduki tempat tertinggi disusul kemudian oleh tuan kadi, fakih dan raya kadi.

b.Perkembangan sosial, Ekonomi dan budaya

Dewasa ini, mata pencaharian mereka bertumpu pada sektor pertanian, perikanan, peternakan dan perdagangan. Masyarakat muslim Cham di Vietnam banayak tinggal terisolasi di berbagai kawasan. Aspek sosial dan ekonomi tidak jauh berbeda dengan masyarakat Vietnam pada umumnya. Mereka hidup sebagai nelayan, banyak diantara mereka yang menjadipetani dalam bidang sayuran, dan pembudidayaan kapas. Usaha di bidang peterbnakan juga jasa transportasi air, dan perdagangan. Jumlah kaum muslim di kawasan ini sekitar 700.000 jiwa.

Di Thailand kebanyakan masyarakat Cham tinggal di kota-kota besar teruama Bangkok. Mereka telah berubah menjadi masyarakat urban dan melepaskan ekononomi pertanian kemudian berganti dengan profesi masyarakat kota seperti berdagang dan bertenun kain secara modern.

Kampuchea merupakan pusat masyarakat muslim Cham terbesar. Menurut data statistik tahun 1995, terdapat sedikitnya 200.000 orang di kawasan ini. Angka ini jauh dibawah jumlah mereka sebelum pembantai masal yang kerap terjadi pada masa Pol Pot (1975-1979). Mereka kebanayak juga bermata pencaharian sebagai petani.

c. Perkembangan keagamaan

Dalam praktek keagamaan, seperti halnya kaum muslim di Asia Tenggara lainnya, masyarakat muslim Cham menganut Islam mazhab Suni. Sehubungan dengan banyaknya bantuan dari Timur Tengah dan dunia Islam, pemerintahan kampuchea sempat merasa khawatir terdapat gerakan keagmaan yang puritan dan fundamental.

Berbagai acara keagaamn seperti Idul Fitri, Idul Adha, serta Maulid Nabi seringkali dilaksanakan secara meriah. Hal ini menunjukkan secara agama dan budaya masyarakat muslim Cham sangat dekat dengan negara-negara muslim mayoritas di tetangganya.

Dewasa ini terdapat kecenderungan semakin banyak masyarakat muslim Cham yang mempelajari Islam secara baku dan formal.peran merka dalam kegiatan sosial keagamaan cukup menonjol. Hal seperti ini bisa ditemui dengan banyaknya pendirian masjid-masjid di daerah pesisir di Kamboja dan Vietnam.

C. PENUTUP

Problem yang dihadapi bangsa Pattani, Moro, dan Cham merupakan sebuah permasalahan panjang peralanan sejarah. Masalah kronis yang dihadapi berupa perlawanan bersenjata, dalam rangka untuk memisahkan dan memerdekakan masih terus terjadi.[6] Harus diupayakan supaya negara-negara yang mayoritas non-muslim harus dapat memahami perkembangan Islam di negara masing-masing. Kasus-kasus Islam di Asia Tenggara khususnya yang minoritas terutama uyang penah terjadi di Thailand Selatan (Pattani), Filipina Selatan(Moro), dan Cham, di masa depan diharapkan tidak pernah terjadi lagi.



[1] Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid 5 Islam di Asia Tenggara, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), hlm. 457.

[2] Ibid, hlm 458.

[3] Surin Pitsuwan, Islam di Muangthai Nasionalisme Melayu Masyarakat Patan, (Jakarta: LP3ES, 1989), hlm. 3.

[4] Cesar A. Majul, Dinamika Islam Filipina, ( Jakarta: LP3ES, 1989), hlm. 2.

[5] Ali Kehtani, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini, (Jakarta: PT. Rajawali Grafindo, 2005), hlm. 216.

[6] Saiful Mujani (edt), Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, (Jakarta: LP3ES, 1993), hlm. 54.

kepedulian pada bangsa

Ramai-Ramai Menggadai Indonesia

Oleh Daniel Arief Budiman

Kampanye pemanasan global (global warming) hamper setiap hari kita temukan yang berkaitan dengan hal tersebut, baik kampanye-kampanye lingkungan, poster, sticker, dan lain-lain. Bahkan sejak Indonesia menjadi tuan rumah Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-bangsa tentang perubahan iklim (UNFCC) di Nusa Dua, Bali 3-14 Desember 2007 kampanye ini pembicaraan yang serius baik dari kalangan akademisi kampus, aktifis lingkungan maupun masyarakat umum.

Pemanasan global secara singkat merupakan dampak atas terperangkapnya panas matahari atmosfer bumi. Penyumbang terbesar dari proses ini adalah fenomena efek rumah kaca. Efek rumah Kaca sendiri adalah Karbondioksida yang membiarkan radiasi cahaya masuk akan tetapi menghalangi adiasi panasnya kemabli luar. Maka yang terjadi adalah suhu permukaan bumi mengalami peningkatan dan berdampak pada banyak hal, seperti meningkatnya pencairan es di daerah kutub dan perubahan iklim.

Pada awal Februari 2008 Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.2/2008 tentang Jenis dan Tarif Pendapatan Negara Bukan Pajak untuk Kawasan Hutan bertentangan dengan semangat nasional masyarakat Indonesia untuk mengurangi dampak perubahan iklim, akibat deforestrasi hutan. Bagaimana mungkin, program perubahan iklim dibiayai dengan dana yang bersumber dari aktivitas perusakan hutan Indonesia sendiri. PP ini sendiri memberikan implikasi pada konversi hutan untuk digunakan dalam proses pembalakan, pertambangan, perkebunan dan usaha lainnya.

Kebijakan yang dikeluarkan jelas-jelas mengabaikan semangat pelestarian lingkungan hidup Hutan Indonesia dikenal sebagai paru-paru dunia. Ekosistem Indonesia tidak bisa dibangun dengan mengorbankan pembalakan hutan. Hutan tropis Indonesia sudah rusak oleh ulah manusia dan kita bergantung pada sisa dari hutan tropis tersebut.

Masyarakat di pedalaman sekitar kawasan hutan sebagian besar bergantung pada keberadaan hutan di sekitar mereka. Keberadaan hutan merupakan sumber kehidupan sebagai basis produksi selain pembalakan, dan sumber penyedian air untuk irigasi pertanian dan pasokan air bagi daerah pesisir. Keberadaan hutan tapi perlindungan dari pemerintah semakin terancam keberadaannya. Pemerintahnya bukannya memmberi perlindungan malah memberikan izin konservasi dengan tariff yang sangat murah Rp. 120-Rp. 300 per meternya atau 1,2 -3 juta rupiah per meternya.

Indonesia

..

, merupakan bahagian dari matai-rantai hutang luar negeri Indonesia yang tidak berkesudahan.

Demikian diungkapkan Koor.Advokasi & Jejaring, Yayasan Merah Putih (YMP), Azmi Sirajuddin AR, melalui siaran pers YMP yang diterima Redaksi Sulteng.com, Selasa (26/02/2008).
Menurutnya, kebijakan nasional yang mengatur soal jenis dan tarif bagi Pendapatan Negara Di luar Pajak untuk Kawasan Hutan, adalah produk rezim SBY-JK yang tidak pro-lingkungan hidup dan tidak pro pada pengentasan kemiskinan.
PP tersebut lahir karena desakan pihak World Bank (WB) dan koleganya, seperti Asian Development Bank (ADB) serta Japan Bank for International Cooperation (JBIC). Untuk menutupi kebutuhan anggaran Negara yang katanya defisit APBN 2008 dan 2009.
Karenanya pemerintah berpikir instan. Dengan membuka skema hutang luar negeri yang baru sebesar Rp23,8 Triliun. Sekitar Rp19,1 Triliun sudah diperoleh pemerintah saat ini. Dan masih membutuhkan lagi sekitar 4,7 triliun ke depan (data Depkeu RI).
Ia menambahkan, World Bank menerima proposal hutang tersebut, dengan sejumlah syarat tentunya. Pertama, Pemerintah Indonesia harus meliberalisasi sektor moneter. Caranya, pemerintah tidak boleh melakukan depresiasi terhadap nilai tukar dollar. Sekalipun misalnya, nilai Rupiah menguat terhadap dollar, tapi nilai tukar Rupiah untuk kegunaan domestik tetap rendah. “Lihatlah, harga-harga melambung tinggi. Harga bahan pokok yang tinggi, imbas dari liberalisasi sektor moneter yang tidak memproteksi harga kebutuhan pokok rakyat,” ujarnya.
Kedua, lanjutnya, Pemerintah Indonesia diharuskan meliberalisasi pula sektor fiskal. Salah satunya, perubahan dan koreksi atas sejumlah besaran tarif, bea, pajak, dan jasa. SBY-JK melihat, secara materil yang paling mudah dan tersedia untuk masuk skema fiskal ini adalah kawasan hutan yang mungkin tinggal 55 juta hektar saja (data WALHI/Sawit Watch/WFI).
Karena itu, dibuatlah produk kebijakan setingkat Peraturan Pemerintah (PP). Untuk mengakomodir perubahan pada sejumlah nilai tarif, bea dan jasa. “Yang memprihatinkan, hutan kita dinilai lebih murah dari harga sebiji mangga. Dengan kisaran Rp120 – Rp300 per meter. Atau sebanding dengan Rp1,2 juta hingga Rp3 juta per hektar,” tuturnya.
Hutang luar negeri itu, katanya untuk membiayai sejumlah projek, seperti; Development Program Loan (DPL), Infrastructure Development Program Loan (IDPL), Loan Group For Recovery and Reconstruction (LGFR), Climate Change Program Loan (CCPL). Senarai program tersebut akan dibiayai sepenuhnya oleh sumber hutang luar negeri. Padahal, hutang luar negeri kita yang lama belum mampu kita lunasi beban pokoknya. “Baru sekedar mencicil bunga hutang saja, SBY-JK telah melanggar komitmennya sendiri pada saat Pilpres untuk tidak melanjutkan hutang luar negeri yang baru,” imbuhnya.
Yang lebih mengherankan, katanya, skema pembiayaan ini dikeluarkan menjelang berakhirnya masa jabatan SBY-JK sebagai Presiden dan Wapres. Ini mengulang kesalahan serupa di akhir masa jabatan Presiden Megawati Soekarnoputri pada tahun 2004. Yang mengizinkan sebahagian kawasan hutan lindung untuk pertambangan. Konspirasi antara skema hutang baru itu dengan pengumpulan dana kampanye menjelang Pemilu 2009, sangat sukar untuk disangkal oleh SBY maupun JK.
Ia mengatakan, berangkat dari latar-belakang tersebut, maka, Yayasan Merah Putih (YMP) Sulawesi Tengah, menyatakan, pertama, mendesak Mahkamah Konstitusi (MK) merekomendasikan pencabutan PP No.2/2008 kepada SBY-JK. Karena tidak sesuai dengan semangat UU No.41/1999 tentang Kehutanan. Dan juga merusak komitmen

Selasa, November 18, 2008

Puisi Resah dan Gelisah

Reaksi Kebebasan

kulihat kekerasan
batu permata persatuan dicabik nilai kepentingan
tak ada tindakan
anak bangsa ditindas
keadilan terampas
pemimpin diam
bungkam.....
mana keadilan dan rasa aman
semua bisu
semua tuli
pemimpin bangsa entah dimana
ideologi terhianati
dicari pemimpin penyelamat
bangsa dari rongrongan kekerasan
biadab preman berjubah!!!!!